Energipos.com/Energisiana/Sosok

shadow

Berbekal Gelang Emas, Jadi Pembantu Pabrik Krupuk

Bogor– Omset perusahaan Sri Wahyuni kini sudah miliaran rupiah. Setiap tahun mentargetkan sedikitnya 1000 unit reaktor atau digester biogas PT SWEN IT terjual. Namun semua itu tak membuatnya Sri lupa dengan kampungnya di pulau Buru, Maluku.

Menggandeng salah satu mitra usahanya, Sri Wahyuni telah mendirikan rumah baca atau perpustakaan di pulau Buru. Saat ini sekitar mengoleksi sekitar 2000 buku, baik dari dirinya sendiri maupun hasil bantuan berbagai pihak.

“Biar anak-anak disana mudah belajar dan mendapatkan ilmu pengetahuan. Tidak seperti saya dulu,” ujarnya. Sri Wahyuni lahir di Wates, Kediri. Sejak usia TK mengikuti orang tuanya transmigrasi ke pulau Buru. Lulus SMP, Sri melanjutkan ke SPMA di Ambon. Sejak sekolah di Ambon, Sri mulai belajar mandiri. Bahkan saat pergi ke Ambon untuk melanjutkan sekolah dia berangkat sendiri. Dia ditampung numpang di rumah gurunya. Otaknya yang encer membuat dia diterima tanpa tes di IPB, Bogor. Berbekal gelang emas dan uang Rp 300 ribu dari orang tuanya dia melangkahkan tekad kuliah di Bogor.

“Saya ke Jakarta naik kapal empat hari empat malam,” ujarnya.Tak punya keluarga, Sri ditampung saudara tetangganya di pabrik krupuk di Cempaka Putih, Jakarta. Sri menjadi pembantu di pabrik krupuk itu sembari menunggu saat mulai perkuliahan di Bogor. Hampir semua pekerjaan rumah tangga ia kerjakan. Sejak nyuci piring, nyuci baju hingga membantu membuat krupuk. Semuanya memberikan pengalaman berharga baginya. (ris).

Baca Juga